Tingginya Derajat Alim Ulama 1

Tingginya Derajat Alim Ulama

Kata gus baha:

“Lho beneran, saya tidak sombong. Istri saya pernah menangisi saya gara-gara tahu saya pucat, setelah makan saya pucat.

– Gus ada apa? – (Tanya beliau)

Ya saya jawab seperti itu, saya bohong kan tidak bisa. Kamu tidak tahu rasanya jadi ulama, ya begini nasibnya jadi ulama. Makan runtusen, tertekan.

– Lupakanlah gus! –

Makannya saya sering makan sambil nonton tv, kadang menggoda anak. Kalau enggak, ya tidak bisa. Lha kamu tidak tahu rasanya jadi ulama!.”

***

Itulah kenapa kita tidak boleh protes menyoal tingginya derajat para alim ulama di dunia, apalagi nanti di akhirat. Karena siang malam mereka sudah amat letih memikirkan kemaslahatan umat, umat yang padahal dirinya sendiri tidak mau berpikir, merenung, intropeksi. Jiwa ulama itu terguncang, batin mereka tersiksa kalo lihat ketidak beraturannya hamba-hamba Allah. Resah kalau syariat belum tersampaikan, semampunya menjelaskan hukum yang halal halal yang haram haram, sewaspada mungkin barang mungkin ada yang saru, akhirnya malah jadi sesat dan menyesatkan. Malah yang paling unik, ulama itu “merasa bersalah” ketika umat malah semakin gemar bermaksiat. Mereka menganggap cahaya di hatinya masih terlalu redup, sampai-sampai gagal memancar ke hati orang-orang disekitarnya.

Coba perhatikan doanya nabi Yunus as:

{ لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ }

[سُورَةُ الأَنبِيَاءِ: ٨٧]

“Tidak ada yang disembah kecuali Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang dzalim”.

Beliau terus menyalahkan dirinya dan terus me-labeling sendiri bahwa dia yang benar-benar sudah lalim, padahal itu dosa umatnya yang tidak mau beriman.

Ya, begini lakunya para nabi. Dan juga seperti itu perihalnya alim ulama yang ori. Tidak ada beda.

Terkecuali, ulama-ulama yang kw, yang bohong-bohongan. Tugas dan ikatan hatinya dengan umat selesai begitu saja seturunya dari mimbar atau dari panggung-panggung. Kesuksesannya cukup dengan jemaah tertawa, terkekeh, atau tersihir untuk ikut memilih calon dewan, gubernur, bupati,partai yang diasongkannya. Selebih dari itu tidak ada, berlalu dengan dimatikannya lampu-lampu gegap-gempita, diturunkannya peralatan sound system besar-besar yang sedari siang memekik telinga, dan dengan salam tempel atau transfer ke M-banking rekening ustadznya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top