Kata gus baha:
“Lho beneran, saya tidak sombong. Istri saya pernah menangisi saya gara-gara tahu saya pucat, setelah makan saya pucat.
– Gus ada apa? – (Tanya beliau)
Ya saya jawab seperti itu, saya bohong kan tidak bisa. Kamu tidak tahu rasanya jadi ulama, ya begini nasibnya jadi ulama. Makan runtusen, tertekan.
– Lupakanlah gus! –
Makannya saya sering makan sambil nonton tv, kadang menggoda anak. Kalau enggak, ya tidak bisa. Lha kamu tidak tahu rasanya jadi ulama!.”
***
Itulah kenapa kita tidak boleh protes menyoal tingginya derajat para alim ulama di dunia, apalagi nanti di akhirat. Karena siang malam mereka sudah amat letih memikirkan kemaslahatan umat, umat yang padahal dirinya sendiri tidak mau berpikir, merenung, intropeksi. Jiwa ulama itu terguncang, batin mereka tersiksa kalo lihat ketidak beraturannya hamba-hamba Allah. Resah kalau syariat belum tersampaikan, semampunya menjelaskan hukum yang halal halal yang haram haram, sewaspada mungkin barang mungkin ada yang saru, akhirnya malah jadi sesat dan menyesatkan. Malah yang paling unik, ulama itu “merasa bersalah” ketika umat malah semakin gemar bermaksiat. Mereka menganggap cahaya di hatinya masih terlalu redup, sampai-sampai gagal memancar ke hati orang-orang disekitarnya.
Coba perhatikan doanya nabi Yunus as:
{ لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ }
[سُورَةُ الأَنبِيَاءِ: ٨٧]
“Tidak ada yang disembah kecuali Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang dzalim”.
Beliau terus menyalahkan dirinya dan terus me-labeling sendiri bahwa dia yang benar-benar sudah lalim, padahal itu dosa umatnya yang tidak mau beriman.
Ya, begini lakunya para nabi. Dan juga seperti itu perihalnya alim ulama yang ori. Tidak ada beda.
Terkecuali, ulama-ulama yang kw, yang bohong-bohongan. Tugas dan ikatan hatinya dengan umat selesai begitu saja seturunya dari mimbar atau dari panggung-panggung. Kesuksesannya cukup dengan jemaah tertawa, terkekeh, atau tersihir untuk ikut memilih calon dewan, gubernur, bupati,partai yang diasongkannya. Selebih dari itu tidak ada, berlalu dengan dimatikannya lampu-lampu gegap-gempita, diturunkannya peralatan sound system besar-besar yang sedari siang memekik telinga, dan dengan salam tempel atau transfer ke M-banking rekening ustadznya.