Profil Pendiri Pondok Pesantren Jati Al-Jawami

Lahir di Cimahi pada 11 Agustus 1997, sosok pendiri Pondok Pesantren  Jati Al-Jawami ini dikenal sebagai pribadi yang teduh, tekun, dan memiliki kesungguhan tinggi dalam menuntut ilmu. Di mulai dari lingkungan rumahnya ponpes Jati Cimahi yang didirikan tahun 1933 silam yang dirintis oleh kakek buyutnya, Ust. Agus Sholah menapaki jalan panjang yang tidak ringan—jalan yang dipilih dengan sadar: jalan pencari ilmu.

‎Sejak usia muda, beliau telah menjalani rihlah ilmiah dari satu pesantren ke pesantren lain. Diantaranya Pondok Pesantren Al-Barokah (Bandung Barat), Gegempalan (Ciamis), Lirboyo (Kediri), Sarang (Rembang), hingga Cidahu (Pandeglang) dan banyak lagi. Setiap tempat menjadi bagian dari proses pembentukan diri dalam tradisi keilmuan pesantren yang mendalam, khususnya dalam penguasaan kitab-kitab turats.

‎Perjalanan tersebut kemudian berlanjut sampai ke negeri yang jauh bahkan setelah menikah. Beliau menimba ilmu di Ma’had Syaikh Muhammad Adnan Al-Afyouni di Damaskus, Suriah selama 2 lamanya, serta mengikuti berbagai halaqah dan majelis ilmu di Mekkah, Arab Saudi. Rangkaian perjalanan ini memperkaya wawasan sekaligus memperdalam fondasi keilmuan yang telah dibangun sebelumnya.

‎Adapun dalam pendidikan formal, beliau menyelesaikan studi di MTs dan MA Al-Inayah Bandung, dan melanjutkan ke Ma’had Aly Serambi Mekkah Al-Adzkar Tangerang Selatan.

‎Dari perjalanan panjang itulah kemudian lahir Pondok Pesantren Jati Al-Jawami. Bagi para santri, pesantren ini bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang pembinaan keseriusan dalam menuntut ilmu—dengan pendekatan kesempurnaan lahir dan penyucian batin dalam memahami warisan keilmuan Rasulullah saw dan para tokoh raksasa pada generasi berikutnya.

Selain mengasuh pesantren, beliau juga menjabat sebagai Direktur Salafiyah di Pondok Pesantren Inovatif Daarul Ihsan, Cimahi. Dalam bidang organisasi, beliau aktif sebagai Ketua LBM di MWCNU Kecamatan Lembang, Sekretaris Forum Pondok Pesantren (FPP) Kecamatan Lembang, serta pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) di PCINU Suriah.

‎Pada tahun 2021 kebelakang beliau meraih Juara Nasional Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) cabang Fathul Mu’in, kitab fikih syafi’iyah yang hanya santri senior yang dapat menaklukkannya. Selain itu, sekarang beliau juga berperan aktif sebagai dewan juri pada beberapa event dalam ajang MQK tingkat Provinsi Jawa Barat, khususnya pada cabang Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Shahih Bukhari.

‎Di balik seluruh capaian tersebut, beliau tetap dikenal dengan prinsip hidup yang sederhana namun kuat, sebagaimana yang beliau dapat dari simbah kyai di ponpes Lirboyo dulu:

‎“Meski tidak pintar, tapi semangat saya ilmu, hobi saya ilmu, refreshing saya ilmu.”

‎Bagi para muridnya, prinsip ini bukan sekadar ungkapan, tetapi cerminan dari perjalanan hidup yang benar-benar dijalani—tentang bagaimana ilmu dikejar dengan kesungguhan, dijaga dengan kerendahan hati, dan diamalkan dengan penuh tanggung jawab.

Scroll to Top