Pondok Pesantren Jati Al-Jawami merupakan lembaga pendidikan Islam yang dirintis di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dengan fokus pada pendalaman ilmu-ilmu keislaman berbasis turats (khazanah klasik).
Penamaan “Jati Al-Jawami” tidak lepas dari landasan nilai dan arah keilmuan yang ingin dibangun. Kata Jati mengandung makna kemurnian—selaras dengan konsep pesantren takhashush yang menitikberatkan pada penguasaan ilmu secara mendalam dan terfokus. Di sisi lain, nama ini juga merupakan bentuk tafa’ul terhadap Pondok Pesantren Jati di Cimahi, sebuah lembaga yang telah melahirkan banyak ulama dan memiliki jejak keberkahan lintas generasi.
Sementara itu, Al-Jawami mencerminkan cita-cita besar pesantren ini sebagai ruang yang menghimpun berbagai cabang ilmu serta menjadi titik temu beragam latar belakang dalam satu lingkungan keilmuan. Nama ini sekaligus merepresentasikan semangat integratif dalam pembelajaran—menggabungkan kedalaman tradisi pesantren Nusantara dengan pengalaman keilmuan Timur Tengah, serta didukung pendekatan teknologi sebagai penunjang pendidikan.
Pondok Pesantren Jati Al-Jawami diresmikan pada 06 Agustus 2025 M bertepatan dengan 02 Rabi’ul Awal 1447 H. Proses perintisannya melibatkan partisipasi luas dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintahan, tokoh agama, lembaga keagamaan, hingga masyarakat umum, yang kesemuanya berkontribusi dalam pembangunan maupun dalam setiap penyelenggaraan kegiatannya.
Sebagai pesantren takhashush, Jati Al-Jawami mengkaji 12 fan ilmu alat—di antaranya nahwu, sharaf, balaghah, isytiqaq —serta mendalami berbagai disiplin ilmu-ilmu syariat. Kajian dilakukan melalui kitab-kitab klasik (turats) dan juga literatur kontemporer, sehingga santri tidak hanya memahami warisan ulama, tetapi juga mampu membaca perkembangan keilmuan.
Metode pembelajaran yang diterapkan meliputi sorogan, bandongan/balagan, tanya jawab interaktif, musyawarah, serta bahtsul masail. Dengan pendekatan ini, proses belajar tidak hanya bersifat satu arah, tetapi melatih keaktifan, ketelitian, dan daya analisis santri. Kegiatan belajar mengajar ini variatif ada yang sifatnya harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan seperti kegiatan pasaran yang biasa diadakan setiap setahun 2 kali yang salah satunya pada akhir Ramadhan saat menjelang lebaran.
Pada jenjang berikutnya, para santri dituntut untuk bukan hanya mampu membaca teks secara mandiri, tapi juga wajib memahami kandungan ilmiah, meneliti persoalan, serta menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, pesantren ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan kitab, tetapi juga pada pembentukan nafas tradisi keilmuan yang hidup dan berkelanjutan.