Benarkah Bercanda Saat Shalat Membatalkan Wudlu 1

Benarkah Bercanda Saat Shalat Membatalkan Wudlu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, maka perlu kiranya kita mengenal terlebih dahulu beberapa istilah sebagai berikut:

– Qohqohah (قهقهة) : tertawa yang dapat terdengar oleh sendiri dan orang-orang disampingnya.

– Dhohik (ضحك) : tertawa pelan yang terdengar oleh dirinya saja

– Tabassum atau tersenyum (تبسم) : tidak ada suaranya sama sekali, meskipun terlihat gigi.

***

Didalam madzhab hanafi seseorang yang sedang shalat, lalu:

– qohqohah, maka batal shalat sekaligus batal wudlunya.

– dhohik, maka batal shalatnya saja wudlunya tidak.

– kalau tabassum tidak membatalkan keduanya.

Sedangkan di madzhab syafi’i sekalipun qohqohah maka mutlak “tidak berimbas membatalkan wudlu”, baik di luar maupun di dalam shalat, hanya saja kedapatan dengan itu shalatnya batal dan harus diulang.

***

Catatan:

Menarik, coba kita flashback ke belakang, waktu kecil anak-anak suka bilang kalo shalat batal 3x sebab betcanda, “harus wudlu lagi” katanya batal.

Apa benar?

Secara umum paradigma ini salah sebab di madzhab syafi’i tidak ada hubungannya bercanda sama batal wudlu, tapi kalau dipandang dari perspektif madzhab hanafi maka ada “kemungkinan benar”, bila yang dimaksud bercandanya sampai taraf qohqohah.

Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top