Boleh, sebab perspektif kita Ahlussunnah wal Jamaah شيء itu apa-apa yang “ada”. Sedangkan dzat Allah bukan sekedar ada tapi dzat yang wajib (pasti) ada, berbeda dengan makhluk yang hanya boleh keberadaannya maksudnya bisa ada atau bisa tidak ada, keduanya logis.
Bahkan di Al-Quran sendiri Allah SWT menggunakan kata شيء untuk merujuk dzatnya:
{ قُلۡ أَیُّ شَیۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَـٰدَةࣰۖ قُلِ ٱللَّهُ ..} [سُورَةُ الأَنۡعَامِ: ١٩]
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah,
{ كُلُّ شَیۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُۥۚ لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَیۡهِ تُرۡجَعُونَ } [سُورَةُ القَصَصِ: ٨٨]
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
***
Taqrirat Mandzumah badul amaali, hal 07, Syaikh KH. Maimoen Zubair.