Lirboyo Tempo Dulu

Benang Kusut

Sebagian dari kita keliru sebab menjadikan kemewahan bangunan dan banyaknya jumlah santri sebagai tolok ukur kesuksesan sebuah pondok pesantren.

Kalau memang seperti ini prinsipnya, mohon maaf bapak ibu salah!.

Pasalnya hari ini teramat banyak lembaga pendidikan yang megah bangunan bahkan beribu-ribu santriwan santriwati didalamnya, tapi rupanya “kering ruhaniyah pesantren”. Kurikulumnya malah asal-asalan, tenaga pengajarnya tidak selektif, aturan pondoknya setiap minggu bergonta-ganti, kyainya tidak pernah ada di pondok apalagi mengajar dan mengimami shalat berjamaah, TAPI kemasan medsos dan uang pemasukannya udah nyundul langit.

Karena begitu, setiap kali diminta rekomendasi ponpes aku selalu sangat berhati-hati takut-takut salah mengarahkan.

Cuman acuan yang tepat, seminimal-minimalnya bisa dilihat dari 2 hal:

1. Kesungguhan sosok kyai (riyadhah, keilmuan, istiqomah ngajar, bangunan sistemnya)

2. Lihat para alumni & santri aktifnya.

Melihat alumni sangat penting, karena dengan begitu kita jadi tahu bagaimana output pondok tsb. Selain itu jangan ketinggalan, perhatikan juga para santri aktifnya sekarang. Karena bisa jadi ekosistemnya sudah berubah, tidak lagi cetar seperti dulu-dulu yang terdengar.

Dua hal ini paling pokok hematku, meski masih banyak poin-poin yang lainnya.

Kerangka pikir semacam ini patut disebarkan. Jika tidak, khawatirnya orang-orang awam akan mudah menjustifikasi pondok-pondok pesantren kecil dan dan sedikit santrinya tidak keramat.

Nb:

– Di atas itu adalah foto ndalem (rumah kyai) atau ponpes lirboyo pada masa perintisan Simbah Yai Sepuh KH. Abdul Karim rahimahullah ta’ala.

Wallahu a’lam.

Advertisment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Logo Jati Al Jawami 768x768

Mari Bergabung Dengan Komunitas SAJATI

SAJATI – Adalah ruang bersama Keluarga Besar Pondok Pesantren Jati Al-Jawami untuk menjaga ikatan, melanjutkan nilai keilmuan dan memperluas mamfaat

Scroll to Top