photo_2024-08-21_15-39-00

Membicarakan kebaikan sendiri itu tidak selamanya buruk.

Membicarakan kebaikan sendiri itu tidak selamanya buruk. Bisa jadi baik, bila terdapat kemaslahatan agama di dalamnya semisal:

– penegak amar makruf nahi munkar
– penasihat
– konsultan
– guru
– pendidik
– pemberi wejangan
– pengingat
– pendamai dua orang yang sedang berseteru
– mencegah kejahatan
– dan lain sebagainya

Mereka tadi boleh-boleh saja menyebutkan kebaikan dirinya, dengan niatan agar ucapannya bisa lebih diterima dan dipegang oleh oranglain.

Dengan konsep ini, Jadi antum gak usah heran kalo pas denger pengajian, ceramah-ceramah, atau seminar gus baha beliau seringkali memuji-muji dirinya sendiri; “saya ini ulama”, “saya tahu betul ilmu ini” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Begitu juga sewaktu kita ikut ijazah doa amalan, biasa para kyai dawuh “alhamdulillah kang, saya sudah mengamalkan wirid ini selama 12 tahun tidak putus” dan seterusnya….

Juga termasuk pada bab ini, yaitu kang santri atau para sarjanawan yang buat CV melamar jadi guru, tulis saja saya dapat penghargaan ini itu saya punya sertifikat ini itu…. Daripada posisi itu malah ditempati oleh orang lain yang belum tentu lebih baik. Bagaimana kalo jadinya sama orang yang salah ???

Mulai sekarang antum kalo denger orang lain pamer “kemewahan” awak’e dewe, ya jangan suudzan. Husnudzan saja niatan dia baik seperti di atas. Yang pasti buruk ya cuma satu, kamu dengan keangkuhan mu!.

Jangan ya dek yaaa..

__

المرجع:
كتاب مراقي العبودية شرح بداية الهداية ص ١٢٩

__

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top