Salah satu karakter atau ciri khas yang kami bangun apabila mengisi “pengajian umum” ialah membaca kitab. Jadi bukan hanya saat dengan santri di pesantren, akan tetapi dengan jemaah bapak-bapak ibu-ibu pun demikian tidak berubah dari segi membawa & membaca. Namun barang tentu tingkatan pendalaman dan ekstensi kajian akan berbeda sesuai pengalaman audiens.
Kami memandang hal ini teramat penting, apalagi dengan maraknya fenomena ustadz karbitan yang bahkan sama sekali belum pernah mengenyam bangku Pesantren, lalu tenar dan viral dimana-mana. Seiring dengan tuntutan berbicara semakin tinggi, akhirnya terpaksa banyak improvisasi. Fatwa ngawur, kemampuan baca Al-Quran buruk, hadits salah-salah harokat dan huruf susunan kalimat acak-acakan kadangkala ada frase yang hilang bahkan ditambah, tapi anehnya saat menjelaskan tiba-tiba menyihir pendengar. Dikira ilmu padahal sebatas opini pribadi. Parahnya lagi dia beropini dengan hukum agama.
Setidaknya ada enam faidah kalo ustadz senantiasa bawa kitab saat mengisi pengajian:
1. Membuat penjelasan lebih terstruktur
2. Membangun kepercayaan jamaah
3. Menjadi contoh adab terhadap ilmu
4. Catatan pinggir pada kitab menyimpan pengalaman belajar serta menghidupkan ruhaniah guru
5. Menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan sebab memiliki rujukan yang pasti
6. Menjaga tradisi literasi pesantren
Kami tidak mengatakan bahwa masyarakat harus ngaji kitab dengan cara utawi iki iku, ari ieu eta, walau itupun ya sah-sah saja. Tentu dengan mempertimbangkan efesiensi waktu. Akan tetapi yang kami sedang bicarakan adalah bagaimana seorang pembicara bisa tampil dengan lebih “ihtiyath/berhati-hati”, aebab itulah yang dikhawatirkan.
Rasulullah SAW bersabda:
أجرؤكم على الفتوى أجرؤكم على النار
Orang yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling berani masuk Neraka
Naudzubillah…
__
Tentu ketika seorang memiliki mustawa atau level yang berbeda, meski tanpa kitab ucapannya sudah ngitab. Sehingga subtansi dari membawa dan membaca kitab pun pastinya sudah hasil.
__
Potret diatas adalah contoh salah satu masjid yang kami bina beberapa tahun kebelakang Masjid Baitul Amanah di Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kab. Bandung Barat, para jemaah bersemangat ngaji sambil bawa kitab. Kitabnya Al-Yaqutun Nafis, penjelasannya saya tambahkan dari banyak kitab-kitab lain agar lebih sempurna. Semalam sudah sampai pada bab al-‘ariyah atau pinjam meminjam. Mungkin tahun depan sudah bisa khatam sampai kepada Jinayat. Do’akan saja semoga istiqamah dan ada manfaatnya.