Makam-Raden-Aria-Wangsa-Goparana-Wisata-Religi-di-Subang

Makam Nangka Beurit & Hikmah Berziarah

‎Kalau anda sedang kebetulan berkunjung ke daerah kabupaten Subang, lemah cai bapak gubernur jabar yang belakangan ini lagi naik daun dan sangat banyak digandrungi masyrakat, maka jangan lupa sempatkanlah waktu untuk menepi terlebih dahulu di kecamatan Sagalaherang, atau tepatnya di area makam keramat Nangka Beurit.
‎Telah disemayamkan pada lokasi tersebut seorang keturunan raja yang malah memilih jalan hening, kesunyian, seleka seleke suluk, menjadi penyebar agama Islam pada masanya dibanding berselimut hangat dibalik dinding kerajaan Talaga Manggung yang tengah dipimpin oleh ayahnya sendiri.
‎Raden Arya Wangsa Goparona (sekitar abad 16) atau juga biasa disebut sunan Sagalaherang, putra dari sunan Wanaperih raja Talaga Manggung yang masih bersambung nasab kepada sri baduga Maharaja / Prabu Siliwangi dalam runut silsilahnya.
‎Namun bila kita membaca sejarah, maka kiranya tidak akan mengherankan jalan hidup yang telah dipilih oleh beliau sampai rela berdakwah berkeliling ke Purwakarta, Cianjur, Sukabumi hingga Subang pada akhirnya. Jelasnya sebab keberkahan “guru ruhani” beliau yang tidak lain adalah Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
‎”Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, kiranya itulah pribahasa yang cukup menggambarkan tentang kekuatan ikatan guru dan murid atau orangtua dan anaknya. Jadi jangan heran bila faktanya di kemudian hari beliaupun memiliki putra yang tangguh meneruskan estafet perjuangan dakwah tersebut yaitu Rd. Aria Jayasasana (Rd. Wira Tanu 1) atau dalem Cikundul; seorang pendiri kabupaten Cianjur yang hari ini makamnya tiada henti terus diziarahi siang & malam oleh segenap pelancong dari dalam dan luar kota. Seperti itulah kebaikan membumi, dia akan terus menemukan jalannya sendiri, sekalipun terjal dan berliku.
‎Semoga kita mendapat percikan dari keberkahan beliau semua. Amiinn.
‎Berikut adalah sekilas dari hikmah berziarah, silahkan disimak videonya.

‎بارك الله فيكم
‎وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

  ‎Salah satu karakter atau ciri khas yang kami bangun apabila mengisi “pengajian umum” ialah membaca kitab. Jadi bukan hanya saat dengan santri di pesantren, akan tetapi dengan jemaah bapak-bapak ibu-ibu pun demikian tidak berubah dari segi membawa & membaca. Namun barang tentu tingkatan pendalaman dan ekstensi kajian akan berbeda sesuai pengalaman audiens. ‎ ‎Kami memandang hal ini teramat penting, apalagi dengan maraknya fenomena ustadz karbitan yang bahkan sama sekali belum pernah mengenyam bangku Pesantren, lalu tenar dan viral dimana-mana. Seiring dengan tuntutan berbicara semakin tinggi, akhirnya terpaksa banyak improvisasi. Fatwa ngawur, kemampuan baca Al-Quran buruk, hadits salah-salah harokat dan huruf susunan kalimat acak-acakan kadangkala ada frase yang hilang bahkan ditambah, tapi anehnya saat menjelaskan tiba-tiba menyihir pendengar. Dikira ilmu padahal sebatas opini pribadi. Parahnya lagi dia beropini dengan hukum agama. ‎ ‎Setidaknya ada enam faidah kalo ustadz senantiasa bawa kitab saat mengisi pengajian: ‎ 1. Membuat penjelasan lebih terstruktur 2. ‎Membangun kepercayaan jamaah 3. ‎Menjadi contoh adab terhadap ilmu 4. ‎Catatan pinggir pada kitab menyimpan pengalaman belajar serta menghidupkan ruhaniah guru 5. ‎Menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan sebab memiliki rujukan yang pasti 6. ‎Menjaga tradisi literasi pesantren ‎ ‎Kami tidak mengatakan bahwa masyarakat harus ngaji kitab dengan

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top