Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak
Makam Nangka Beurit & Hikmah Berziarah
Kalau anda sedang kebetulan berkunjung ke daerah kabupaten Subang, lemah cai bapak gubernur jabar yang belakangan ini lagi naik daun dan sangat banyak digandrungi masyrakat, maka jangan lupa sempatkanlah waktu untuk menepi terlebih dahulu di kecamatan Sagalaherang, atau tepatnya di area makam keramat Nangka Beurit.
Telah disemayamkan pada lokasi tersebut seorang keturunan raja yang malah memilih jalan hening, kesunyian, seleka seleke suluk, menjadi penyebar agama Islam pada masanya dibanding berselimut hangat dibalik dinding kerajaan Talaga Manggung yang tengah dipimpin oleh ayahnya sendiri.
Raden Arya Wangsa Goparona (sekitar abad 16) atau juga biasa disebut sunan Sagalaherang, putra dari sunan Wanaperih raja Talaga Manggung yang masih bersambung nasab kepada sri baduga Maharaja / Prabu Siliwangi dalam runut silsilahnya.
Namun bila kita membaca sejarah, maka kiranya tidak akan mengherankan jalan hidup yang telah dipilih oleh beliau sampai rela berdakwah berkeliling ke Purwakarta, Cianjur, Sukabumi hingga Subang pada akhirnya. Jelasnya sebab keberkahan “guru ruhani” beliau yang tidak lain adalah Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
”Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, kiranya itulah pribahasa yang cukup menggambarkan tentang kekuatan ikatan guru dan murid atau orangtua dan anaknya. Jadi jangan heran bila faktanya di kemudian hari beliaupun memiliki putra yang tangguh meneruskan estafet perjuangan dakwah tersebut yaitu Rd. Aria Jayasasana (Rd. Wira Tanu 1) atau dalem Cikundul; seorang pendiri kabupaten Cianjur yang hari ini makamnya tiada henti terus diziarahi siang & malam oleh segenap pelancong dari dalam dan luar kota. Seperti itulah kebaikan membumi, dia akan terus menemukan jalannya sendiri, sekalipun terjal dan berliku.
Semoga kita mendapat percikan dari keberkahan beliau semua. Amiinn.
Berikut adalah sekilas dari hikmah berziarah, silahkan disimak videonya.
بارك الله فيكم
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Kategori
Faidah
Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka