Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Faqih Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Khathib Asy-Syirbini di kitab Al-Iqna’ milik beliau, bahwa MAKRUH hukumnya menulis Al-Quran pada (1) tembok, meskipun itu “tembok masjid”, juga pada (2) pakaian dan (3) makanan dan (4) seumpama lainnya.
Mohon maaf, dan terlebih kalau kaligrafi tersebut diletakkan di tembok depan mimbar atau sekeliling masjid, jelas khawatir merusak kekhusyuan orang yang shalat. Apalagi pangkat-pangkat newbie seperti kita.
Haram tidak?
MAKRUH bukan haram! Kan udah dibilangin.
Bahkan perlu diketahui, termasuk yang jarang terbahas, catat! kalau saja terlanjur kaligrafi tersebut sudah ditulis di tembok masjid / rumah / kafe dsb, maka HARAM hukumnya kita bersandar pada tembok tadi membelakangi (memunggungi) ayat Al-Quran. TAPI kalau ayat tersebut sekedar berada tepat di atas kepalanya, sedangkan yang disandari tembok kosong, maka menurut pendapat dzhahir hukumnya tidak haram!. Silahkan di cek di Hasyiyah Bujairami ‘Alaa Al-Khathib.
Kalau tadi dijelaskan makruh hukumnya menulis Al-Quran di pakaian, bagaimana hukum tidur memakai pakaian tsb? Terus bagi seorang yang junub, apa boleh pakai baju itu?
Di kitab Hasyiyah Al-Bajuri HALAL dipakai Jalan-jalan dan boleh dipakai untuk tidur, sekalipun untuk orang junub, sok!
Maksudnya makanan dituliskan kaligrafi al-quran bagaimana?
Contoh roti, atau bolu biasa ditulis nama ulang tahun dan sebagainya, itu makruh kalau tulisannya berupa ayat Al-Quran. Tapi tetep boleh di makan sekalipun nanti dalam perut bertemu dengan pencernaan. Gak apa-apa, meski tetep bagusnya enggak!.

Alaa kulli haal..
Terlepas dari boleh atau tidak, sekedar makruh atau sampai haram, baik itu Al-Quran, ayatnya, bahkan potongan ayat sekalipun adalah tulisan yang mulia dan mesti dimuliakan, sehingga harus ekstra hati-hati menjaganya. Bukan cuma ayat Al-Quran termasuk nama-nama yang diagungkan (الأسماء المعظمة) spt: nama Allah, malaikat dan lain-lain. Jadi tolong lebih mawas, seringkali saya lihat biasanya baju, topi atau bendera bertuliskan “laa ilaaha illallah” lalu diletakan dimana saja, didudukin pantat, bulak-balik ke WC dan sebagainya.
Mohon untuk lebih ditingkatkan lagi kehati-hatian dan penghormatan nya. Benar, Rasulullah saw itu biasa memakai cincin, pada cincin tersebut tertulis dalam 3 baris:
Baris kesatu = Muhammad (محمد)
Kedua = Rasul (رسول)
Ketiga = Allah (الله)
Tapi apabila beliau saw masuk toilet, maka spontan beliau akan melepas telebih dahulu cincinnya, sebab menjaga kemulian kalimat tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Anas, dapat dilihat di shahih Ibnu Hibban.
_____
Rujukan
– Al-Iqna’ 1/104:
وَيُكْرَهُ كَتْبُ الْقُرْآنِ عَلَى حَائِطٍ وَلَوْ لِمَسْجِدٍ وَثِيَابٍ وَطَعَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَيَجُوزُ هَدْمُ الْحَائِطِ وَلُبْسُ الثَّوْبِ وَأَكْلُ الطَّعَامِ، وَلَا تَضُرُّ مُلَاقَاتُهُ مَا فِي الْمَعِدَةِ
– Hasyiyah Bujairami 1/372:
قَوْلُهُ: (وَيُكْرَهُ إلَخْ) قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ: وَيَحْرُمُ الِاسْتِنَادُ لِمَا كُتِبَ مِنْهُ عَلَى جِدَارٍ. اهـ. سم. بِأَنْ جُعِلَ خَلْفَ ظَهْرِهِ أَمَّا إنْ كَانَ فَوْقَ رَأْسِهِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ الِاسْتِنَادُ إلَى الْجِدَارِ الْمَكْتُوبِ فِيهِ فَرَاجِعْهُ.
– Hasyiyah Al-Bajuri 1/117:
ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.
– Mughni Al-Muhtaj 1/155:
(وَلَا يَحْمِلُ) فِي الْخَلَاءِ (ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى) أَيْ مَكْتُوبَ ذِكْرٍ مِنْ قُرْآنٍ أَوْ غَيْرِهِ حَتَّى حَمْلُ مَا كُتِبَ مِنْ ذَلِكَ فِي دِرْهَمٍ أَوْ نَحْوِهِ تَعْظِيمًا لَهُ وَاقْتِدَاءً بِهِ ﷺ: «فَإِنَّهُ كَانَ إذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ نَزَعَ خَاتَمَهُ وَكَانَ نَقْشُهُ ثَلَاثَةَ أَسْطُرٍ: مُحَمَّدٌ سَطْرٌ، وَرَسُولُ سَطْرٌ، وَاللَّهِ سَطْرٌ» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَنَسٍ.
Terimakasih semoga dapat diambil manfaatnya.. Walhamdulillah
Dari – Ponpes Jati Al Jawami