Salah satu karakter atau ciri khas yang kami bangun apabila mengisi “pengajian umum” ialah membaca kitab. Jadi bukan hanya saat dengan santri di pesantren, akan tetapi dengan jemaah bapak-bapak ibu-ibu pun demikian tidak berubah dari segi membawa & membaca. Namun barang tentu tingkatan pendalaman dan ekstensi kajian akan berbeda sesuai pengalaman audiens. Kami memandang hal ini teramat penting, apalagi dengan maraknya fenomena ustadz karbitan yang bahkan sama sekali belum pernah mengenyam bangku Pesantren, lalu tenar dan viral dimana-mana. Seiring dengan tuntutan berbicara semakin tinggi, akhirnya terpaksa banyak improvisasi. Fatwa ngawur, kemampuan baca Al-Quran buruk, hadits salah-salah harokat dan huruf susunan kalimat acak-acakan kadangkala ada frase yang hilang bahkan ditambah, tapi anehnya saat menjelaskan tiba-tiba menyihir pendengar. Dikira ilmu padahal sebatas opini pribadi. Parahnya lagi dia beropini dengan hukum agama. Setidaknya ada enam faidah kalo ustadz senantiasa bawa kitab saat mengisi pengajian: 1. Membuat penjelasan lebih terstruktur 2. Membangun kepercayaan jamaah 3. Menjadi contoh adab terhadap ilmu 4. Catatan pinggir pada kitab menyimpan pengalaman belajar serta menghidupkan ruhaniah guru 5. Menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan sebab memiliki rujukan yang pasti 6. Menjaga tradisi literasi pesantren Kami tidak mengatakan bahwa masyarakat harus ngaji kitab dengan
SYAIKH. MUHAMMAD YUSUF (1709 – 1856 M)
SYAIKH. MUHAMMAD YUSUF (1709 – 1856 M)
Beliau adalah salah seorang tokoh pejuang dan penyebar Islam di wilayah kabupaten Purwakarta atau yang mana masyarakat sekitar biasa menyebutnya Baing Yusuf.
Ayah beliau bernama R. Ariya Jayanegara salah satu bupati Bogor sekitar abad ke 17 yang bila dirunut keatas maka masih bersambung nasab dengan keraton Padjajaran atau Prabu Siliwangi.
Keistimewaan beliau sudah terlihat bahkan semenjak kanak-kanak, konon katanya pada usia 7 tahun sudah fasihat berbahas Arab, saat 12 tahun sudah hafal Al-Quran dan pada usia 13 tahun memulai rihlah ilmiah ke Mekkah Al-Mukarramah sebagaimana para ulama lain di masa tersebut, tidak tanggung 11 tahun lebih kurang beliau menimba ilmu disana, hingga akhirnya pulang ke tanah air dan berdakwah.
Salah satu keistimewaan lainnya beliau dikaruniai oleh Allah swt usia yang begitu panjang, hingga 147 tahun lamanya. Tak heran kalau banyak sekali peran dan jasa yang beliau tinggalkan, diantaranya adalah masjid agung Baing Yusuf yang berdiri tepat di tengah jantung kabupaten Purwakarta.
Selain itu, beliau pun memiliki banyak santri, diantara yang paling masyhur adalah sang mufti haramain, gurunya para kyai jawa, yakni Syaikh Nawawi Al-Bantani. Dikisahkan bahwa sebelum Syaikh Nawawi belajar ke Mekkah Al-Mukarramah, beliau terlebih dahulu menimba ilmu di Baing Yusuf selama beberapa tahun.
Terdapat beberapa karya yang beliau tulis dan dapat ditemukan sampai hari ini, diantaranya adalah kitab fikih dan tashawuf berbahasa Sunda yang ditulis dengan Arab pegon. Ada rumor bahwa selain dua kitab tersebut beliau pun sebenarnya memiliki kitab dalam bidang ilmu Tafsir Al-Quran, tapi sayang sampai hari ini belum ditemukan secara lengkap.
Terlepas dari semua itu, beliau adalah sosok yang sangat istimewa dan pantas untuk kita jadikan cermin kehidupan, baik dari segi keilmuannya, keshalihannya, perjuangannya dan semua nilai baik lainnya.
Kebetulan saat ini saya sedang berziarah, sehingga dapat menulis biografi singkat ini tepat di depan area pemakaman beliau.
Semoga dengan menuturkan kisah para ulama dan orang-orang shalih, menjadi sebab turun rahmat dan keberkahan bagi kita semua. Terkhusus bagi pondok pesantren yang tanahnya sedang saya perjuangkan pembebasannya saat ini, Mudah-mudahan ada milik rizki dari Allah juga kelak dapat menebar mangfaat sebagaimana kebermanfaatan ilmu dan pondok pesantren beliau para pendahulu. Amin.
Kategori
Faidah
Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka