504252759_4118426528378660_8975731772841000755_n

SYAIKH. MUHAMMAD YUSUF (1709 – 1856 M)

SYAIKH. MUHAMMAD YUSUF (1709 – 1856 M)
Beliau adalah salah seorang tokoh pejuang dan penyebar Islam di wilayah kabupaten Purwakarta atau yang mana masyarakat sekitar biasa menyebutnya Baing Yusuf.
Ayah beliau bernama R. Ariya Jayanegara salah satu bupati Bogor sekitar abad ke 17 yang bila dirunut keatas maka masih bersambung nasab dengan keraton Padjajaran atau Prabu Siliwangi.
Keistimewaan beliau sudah terlihat bahkan semenjak kanak-kanak, konon katanya pada usia 7 tahun sudah fasihat berbahas Arab, saat 12 tahun sudah hafal Al-Quran dan pada usia 13 tahun memulai rihlah ilmiah ke Mekkah Al-Mukarramah sebagaimana para ulama lain di masa tersebut, tidak tanggung 11 tahun lebih kurang beliau menimba ilmu disana, hingga akhirnya pulang ke tanah air dan berdakwah.
Salah satu keistimewaan lainnya beliau dikaruniai oleh Allah swt usia yang begitu panjang, hingga 147 tahun lamanya. Tak heran kalau banyak sekali peran dan jasa yang beliau tinggalkan, diantaranya adalah masjid agung Baing Yusuf yang berdiri tepat di tengah jantung kabupaten Purwakarta.
Selain itu, beliau pun memiliki banyak santri, diantara yang paling masyhur adalah sang mufti haramain, gurunya para kyai jawa, yakni Syaikh Nawawi Al-Bantani. Dikisahkan bahwa sebelum Syaikh Nawawi belajar ke Mekkah Al-Mukarramah, beliau terlebih dahulu menimba ilmu di Baing Yusuf selama beberapa tahun.
Terdapat beberapa karya yang beliau tulis dan dapat ditemukan sampai hari ini, diantaranya adalah kitab fikih dan tashawuf berbahasa Sunda yang ditulis dengan Arab pegon. Ada rumor bahwa selain dua kitab tersebut beliau pun sebenarnya memiliki kitab dalam bidang ilmu Tafsir Al-Quran, tapi sayang sampai hari ini belum ditemukan secara lengkap.
Terlepas dari semua itu, beliau adalah sosok yang sangat istimewa dan pantas untuk kita jadikan cermin kehidupan, baik dari segi keilmuannya, keshalihannya, perjuangannya dan semua nilai baik lainnya.
Kebetulan saat ini saya sedang berziarah, sehingga dapat menulis biografi singkat ini tepat di depan area pemakaman beliau.
Semoga dengan menuturkan kisah para ulama dan orang-orang shalih, menjadi sebab turun rahmat dan keberkahan bagi kita semua. Terkhusus bagi pondok pesantren yang tanahnya sedang saya perjuangkan pembebasannya saat ini, Mudah-mudahan ada milik rizki dari Allah juga kelak dapat menebar mangfaat sebagaimana kebermanfaatan ilmu dan pondok pesantren beliau para pendahulu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top