Jor-Joran di Hari 'Asyuuraa

Jor-Joran di Hari ‘Asyuuraa

Menarik, tadi malam guru kami syaikhuna syaikh ahmad muhammad ‘adnaan menjelaskan seputar keistimewaan hari ‘Asyuuraa atau tanggal 10 bulan muharram.

Selain berpuasa, satu diantaranya beliau ungkapkan, bahwa sesiapa saja yang “jor-joran” melapangkan nafakah untuk keluarganya di hari tersebut, niscaya Allah swt akan melapangkan rizkinya SEPANJANG TAHUN itu!.

Bahkan amalan ini tegas beliau, sudah membudaya dari semenjak dahulu. Sampai-sampai dikatakan oleh imam Sufyan:

إنا قد جربناه فوجدنا كذلك

“Sungguh kami telah mengujinya sendiri, maka ternyata memang demikian adanya”.

Apa ada dasarnya?
Tentu saja, setelah aku cek ternyata memang terdapat beberapa riwayat hadits yang secara spesifik menyebutkan perihal itu، semisal pada hadits nomor 10007 di kitab Mu’jam al-Kabirnya Imam Thabarani: عن علقمة، عن عبد الله، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((من وسع على عياله يوم عاشوراء لم يزل في سعة سائر سنته)).

“Dari Alqamah, dari Abdullah, dari nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: barangsiapa yang melapangkan (nafakah) keluarganya pada hari Asyuraa, maka niscaya ia berada pada kelapangan di sepanjang tahunnya”.

Hadits serupa pun bisa kita temui dibeberapa kitab hadits lainnya, seperti pada kitab Misykah al-Mashabih atau pada Jaami’ as-Shagiir

Lebih dari itu, imam al-Munawi di Syarh Faidl al-Qadirnya bahkan menguraikan asal-usul tausi’ah (melapangkan nafakah) di hari asyura ini, tukasnya hal tersebut dikarenakan dahulu, kala Allah swt menenggelamkan dunia dengan banjir bandang (thawfan) sampai tidak ada yang tersisa kecuali kapal nabi Nuh saja beserta orang-orang yang ada di dalamnya.
Lalu sejurus kemudian Allah kembalikan bumi itu pada hari asyura, mereka semua pun diperintahkan untuk turun dari kapal guna mempersiapkan penghidupan keluarganya sendiri-sendiri، dengan sentosa, bertabur berkah dan seterusnya. Maka dari itu hari Asyuraa menjadi hari tausi’ah dan bertambahnya kerja demi penghidupan.

Jadi boleh lah, buat bapak-bapak di check lagi hape nyonya besarnya. Barangkali di aplikasi Shopee atau Bliblinya ada beberapa barang, alat make up, atau sepeda anak yang diam-diam masuk keranjang tapi belum check out he.

Kalau pun tidak begitu bisa ajak keluarga anak istri jalan-jalan, belikan apa saja sekiranya membahagiakan membuat senyum simpul sesuai kadar kemampuan. Mudah-mudahan jadi wasilah lapang rizki keluarga kita di tahun ini, yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Amiiiinnn 😊🤲 ….

Jor-Joran di Hari 'Asyuuraa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top