Salah satu karakter atau ciri khas yang kami bangun apabila mengisi “pengajian umum” ialah membaca kitab. Jadi bukan hanya saat dengan santri di pesantren, akan tetapi dengan jemaah bapak-bapak ibu-ibu pun demikian tidak berubah dari segi membawa & membaca. Namun barang tentu tingkatan pendalaman dan ekstensi kajian akan berbeda sesuai pengalaman audiens. Kami memandang hal ini teramat penting, apalagi dengan maraknya fenomena ustadz karbitan yang bahkan sama sekali belum pernah mengenyam bangku Pesantren, lalu tenar dan viral dimana-mana. Seiring dengan tuntutan berbicara semakin tinggi, akhirnya terpaksa banyak improvisasi. Fatwa ngawur, kemampuan baca Al-Quran buruk, hadits salah-salah harokat dan huruf susunan kalimat acak-acakan kadangkala ada frase yang hilang bahkan ditambah, tapi anehnya saat menjelaskan tiba-tiba menyihir pendengar. Dikira ilmu padahal sebatas opini pribadi. Parahnya lagi dia beropini dengan hukum agama. Setidaknya ada enam faidah kalo ustadz senantiasa bawa kitab saat mengisi pengajian: 1. Membuat penjelasan lebih terstruktur 2. Membangun kepercayaan jamaah 3. Menjadi contoh adab terhadap ilmu 4. Catatan pinggir pada kitab menyimpan pengalaman belajar serta menghidupkan ruhaniah guru 5. Menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan sebab memiliki rujukan yang pasti 6. Menjaga tradisi literasi pesantren Kami tidak mengatakan bahwa masyarakat harus ngaji kitab dengan
Hikmah Masa ‘iddah
Beranda » Uncategorized » Hikmah Masa ‘iddah
Pada kajian bersama teteh-teteh Fatayat Nahdlatul Ulama kec. Lembang kemarin, saya sampaikan, bahwa:
“Dalam Islam diantara hikmah adanya masa Iddah bagi perempuan yang dicerai hidup / mati yaitu memastikan akan kosongnya rahim dari kehamilan.
Namun kembali saya tegaskan bahwa hal tersebut bukan alasan (illat) adanya hukum. Sebab kalau demikian hari ini teknologi modern sudah sangat canggih, tak perlu menunggu berlama-berlama karena bisa di USG.
Lalu apa alasan utama adanya masa iddah?
Ulama mengatakan litta’abbud artinya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah swt, tatkala sang Pencipta menghendaki demikian, maka sami’naa wa atha’naa kami mendengar dan kami taat.”
Kategori
Faidah
Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka