Gemini_Generated_Image_8je8mj8je8mj8je8_result

Adakah Wali Allah yang Tidak “Mesantren” ?

Syekh Ibn Hajar Al – Haitami pernah ditanya perihal maksud ungkapan para ulama:
ما اتخذ الله من ولي جاهل ولو اتخذه لعلمه
Allah tidak akan mengangkat seorang yang bodoh untuk menjadi wali, Kalau saja allah angkat ia maka pasti Dia sendiri yang akan mengajarkannya”.
Lalu jawab beliau seraya menjelaskan, bahwa ungkapan yang dimaksud dari ilmu yang akan diajarkan langsung oleh Allah swt adalah ilmu yang bertalian dengan ilham akan kemakrifatan dan perihal lainnya dengan porsi yang lebih dari selain wali.
Sedangkan untuk ilmu-ilmu dohir (syari’at), maka bukan bagian medan ilham tersebut, melainkan “calon wali” ini *harus belajar* terlebih dahulu secara nyata kepada seorang guru, sebelum pengangkatannya.
Walhasil seseorang yang bodoh akan ilmu syariat SELAMANYA tidak mungkin menjadi wali selama ia menyandang status bodoh tersebut. Tapi barulah setelah nanti ia belajar dan mampu mengukuhkan ibadahnya dengan landasan ilmu tadi, seketika Allah akan limpahkan kepadanya berbagai ilmu _metafisika_ (ghaib) yang bahkan *tidak bisa digapai* dengan cara kasab ataupun ijtihad orang umum.
إذا اراد الله ولايته ألهمه تعلم ما يجب عليه لأنه لا يمكن الإلهام فيه، فإذا تعلمه وأتقن عباداته، أفاض الله عليه تعالى من علوم غيبه ما لايدرك بكسب ولا اجتهاد.
Dari ketetapan ini dapatlah kita ketahui bahwa sebenarnya ilmu syari’at itu MUSTAHIL dikuasai kecuali melalui pengajaran yang hissi (fisik; panca indera):
وبما تقرر علم أن علم الشرائع لايدرك إلا بالتعليم الحسي
Sehingga sebelum seorang menyandang pangkat kewalian, apalagi sampai nyundul langit mencapai maqom tertinggi, HARUSLAH terlebih dahulu ia menjadi sosok yang alim.
Sekali lagi,
Jadi adakah wali yang gak mesantren?
والله تعالى أعلم
Nb:
• Diksi mesantren yang kami maksud tentunya bukan secara harfiah, tapi maknawiyah. Sehingga tidak harus formal berupa asrama. Tapi mungkin surau, majelis ta’lim, ribath dsb.
__________
📚 Kitab Al-Fatawa Al-Haditsiyyah lis-Syaikh Ibn Hajar.

Advertisment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Logo Jati Al Jawami 768x768

Mari Bergabung Dengan Komunitas SAJATI

SAJATI – Adalah ruang bersama Keluarga Besar Pondok Pesantren Jati Al-Jawami untuk menjaga ikatan, melanjutkan nilai keilmuan dan memperluas mamfaat

Scroll to Top