Islam terkonstruksi (baca; terbangun) dari tiga unsur:
1. Akidah
2. Syariat
3. Akhlak
Sehingga seseorang tidak akan sempurna ‘keislamannya’ kecuali dengan keyakinan yang shahih terpatri dihatinya, secara utuh mengikuti aturan agama dalam pergaulan nya bersama tuhan dan sesama manusia, kemudian dengan budi pekerti yang luhur nan mulia.
Namun asas dari ke semuanya adalah akidah, sebab dengannya seseorang sah dikategorikan seorang muslim walaupun ceroboh terhadap dua unsur lainnya, kendati demikian dia berdosa berhak menyandang gelar fasik dan berpotensi mendapat hukuman dari Allah SWT.
Adapun ketika mana cacat akidah dalam tekad dan pengetahuan nya, maka sungguh dia tidak dikategorikan seorang muslim sekalipun ia habiskan seluruh usianya untuk beribadah dan taat, tidak peduli walau semua tindak tanduk nya bernafas syariat dan adab. Orang-orang semacam mereka seperti mana yang di isyaratkan dalam Al-quran:
Artinya:” Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”
(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.
Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak berikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat”. (QS. Al-Kahfi; 103-105)
Akidah yang kita bicarakan ini ”esensi” nya tidak mungkin berbeda, dari semenjak zaman nabi Adam AS hingga penutup para nabi yakni Muhammad SAW. Yaitu:
الايمان بوجود الله ووحدانيته وتنزيهه عن كل ما لايليق به من صفات النقص، والايمان باليوم الاخر والحساب والجنة والنار وما الى ذلك.
“Beriman akan wujudnya Allah dan mengesankan Nya, juga mensucikan diriNya dari segala suatu yang tidak pantas dari sifatan-sifatan yang tercela, pun mengimani akan hari akhir, perhitungan amal, surga, neraka, dan lainnya”.
Sungguh semua rasul mengajak kaum nya untuk meyakini nilai-nilai ini, mereka saling menguatkan dakwah para utusan sebelumnya, dan memberi bisyarah atau kabar gembira bahwa kelak dizaman mendatang akan diutus seorang yang teramat mulia. Maklumat ini seperti mana yang Allah terangkan didalam kitab Nya,
Artinya: “Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya; 25)
dan dalam ayat lain,
Artinya: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya”. (QS. As-Syura; 13)
Bahkan bukan hanya sekedar esensi nya yang sama, jika kita amati ayat-ayat Al-quran maka sesungguhnya nama ISLAM itu sendiri adalah nama yang telah terdahulu dan abadi untuk akidah ini. Renungkan lah semisal firman Allah ta’ala!,
Artinya: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik”. (QS. Ali Imran; 67)
Dan firman Allah ta’ala,
Artinya: “Mereka (para pesihir) menjawab, “Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
Dan engkau (Fir’aun) tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami, ketika ayat-ayat itu datang pada kami.”
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 125-126)
Dan firman Allah ta’ala,
Artinya: “Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolong untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyun (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim (berserah diri kepada-Mu)”. (QS. Ali Imran; 52)
Dari sini menjadi terang bahwa sesungguhnya agama yang hak (benar) hanya satu TIDAK berbilang, dan sesungguhnya pernyataan “agama-agama langit” (الأديان السماوية) yang seringkali diucapkan oleh orang awam adalah suatu kekeliruan, sebab tidak ada agama yang hak dan dari langit kecuali satu-satunya, yang gilir berganti didakwahkan oleh para nabi dan rasul yang mereka di utus untuknya (agama Islam).
Benar bahwasanya terjadi perubahan dan perkembangan seiring berganti nya zaman dan diutusnya para nabi dan rasul, namun perubahan itu hanya dari segi syariat berupa ragam cara beribadah, muamalah dan lainnya. Adapun hikmah daripada itu sebab syariat disusun sebagai upaya untuk merealisasikan kemaslahatan umat baik secara individu ataupun kelompok, dan sangat logis bahwa perbedaan zaman dan karakter suatu kaum memberi dampak akan berbeda nya syariat mereka.
Nabi Musa as di utus untuk kaumnya yakni bani Israel dengan membawa syariat yang keras, namun seiring zaman berganti dan di utus lah nabi Isa as kepada mereka dengan membawa syariat yang lebih mudah dan ringan. Perihal ini coba perhatikan firman Allah ta’ala atas lisan nabi Isa yang tengah bertutur dengan kaumnya,
Artinya: Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku halalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. (QS. Ali Imran; 50)
Nabi Isa menjelaskan kepada bani Israel bahwa sesungguhnya apa yang berkaitan dengan akidah, ia datang membawa ajaran yang sesuai dengan apa yang ada dalam kitab Taurat, menguatkan, dan memperbaharui dakwahnya. Adapun sehubungan dengan syariat dan hukum halal haram nyata nya nabi musa di beri tuntutan untuk menyampaikan beberapa bentuk perubahan dan adanya sebagian kemudahan-kemudahhan.
Secara ringkas, sungguh diutusnya para rasul itu guna mengemban akidah dan syariat bagi umatnya. Sehubungan dengan akidah maka tidak ada perubahan sama sekali kecuali sebagai penguat dari apa yang telah disampaikan oleh para utusan sebelumnya. Adapun berkaitan dengan syariat maka sesungguhnya ketentuan syariat setiap rasul itu merevisi (ناسخة) ketentuan syariat sebelumnya terkecuali:
1. Direduplikasi dan dikuatkan oleh syariat yang baru
2. Yang dibiarkan (سكت عنه) menurut madzhab fiqih yang memiliki pedoman:
شريعة من قبلنا شريعة لنا ما لم يرد مايخالفها
Artinya: syariat umat sebelum kita adalah syariat kita selagi mana tidak datang ketentuan yang bertentangan dengannya.
Dengan demikian, tatkala kita mempelajari ilmu akidah lengkap dengan semua argumennya maka tidak lain sejatinya kita sedang mempelajari hakikat-hakikat tersebut yang telah Allah haruskan kepada para hamba untuk mengimani dan meyakininya dari semenjak zaman nabi Adam as hingga hari kiamat, dan benar firman allah Subhanahu wa Ta’ala:
Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS. Ali Imran; 19)
Wallahu a’lam
___________________________
Disarikan dari kitab Kubra al-Yaqiniyat al-Kauniyyah, as-Syahid al-Fadhil syaikh Ramadhan al-Buthi, hasil kajian bersama guru kami al-Fadhil syaikh Najih di markaz ad-Dauli selaku murid langsung dari almarhum almaghfur lah.
Di penghujung dars nya Syaikh Najih pada suatu hari memberi kami doa yang sangat pantas untuk istiqomah dibaca dsn di wiridkan oleh para thalab ilm, yakni:
اللهم يامعلّم أدم علّمني ويامفهّم سليمان فهّمني
“Duhai Allah yang memberi ilmu pada nabi adam, berilah saya ilmu, dan duhai yang memberi paham kepada nabi sulaiman, berilah saya paham!”
_______________________________
Semoga bermanfaat