“Yang penting ngaji !!!. Meskipun anaknya tukang ngarit kalau mau ngaji ya pandai. Anaknya alim kalau tidak mau ngaji ya tidak pandai”. (KH. Abdul Karim Lirboyo)
Oleh: Ust Abu Umar al-Makki ___ Dalam hidup ini, kita sering kali menyaksikan sosok ayah atau ibu yang meninggalkan rumah demi mencari nafkah untuk keluarga tercinta. Mereka meniti jalan yang berat, menanggung beban yang tak terlihat di pundak mereka, demi memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tidak ada yang lebih menyentuh hati selain melihat seorang ayah yang berjuang tanpa henti, meninggalkan jejak langkah yang penuh keringat dan air mata, semua demi keluarga yang dicintainya. Dalam pengorbanan ini, terdapat pelajaran besar tentang tanggung jawab, cinta tanpa syarat, dan keikhlasan. Seseorang yang paling bahagia adalah orang yang hatinya dipenuhi oleh cinta, keyakinan, dan pengharapan yang suci. Dia mungkin saja hidup dalam kesulitan, namun jiwanya tak pernah merasa sempit. Ayah atau ibu yang berjuang di jalan ini mungkin menghadapi banyak kesulitan, namun mereka memiliki harapan dan keyakinan yang kuat untuk masa depan anak-anaknya. Pengorbanan ini, yang mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, adalah bentuk cinta yang paling murni. Mereka berjalan jauh, meninggalkan jejak yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat kembali, tetapi dengan keyakinan bahwa jejak itu akan membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang mereka cintai.