Santri Ngaji

Ngaji Ke Teman Sendiri

Ulama dulu itu unik, meski satu guru dan sering ngaji bareng, tetap tidak menghalangi mereka untuk juga mengambil faidah dari temannya. Sangat jauh dari kata gengsi-gengsian, contohnya semisal simbah KH. Abdul Karim Lirboyo yang kala itu sudah berusia 40 tahun masih beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya, bahkan kali ini kepada sahabat karibnya sendiri ketika mondok di Syaikhana Khalil Bangkalan, yaitu kepada Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang.

Setelah diusut, rupanya semangat semacam ini tidak ujug-ujug, tapi memang dicontohkan dan secara tidak langsung juga ditularkan dari generasi ke generasi semenjak zaman sahabat. Syaikh Muhammad Khudlari bik menuturkan di kitab Tarikh at-Tasyri’ al-Islami miliknya bahwa terdapat beberapa mufti masyhur dari kalangan sahabat kala itu yang tersebar ke berbagai penjuru negeri, mulai dari Madinah, Mekkah, Kufah, Syam, Mesir, Yaman dan Bashrah.

Dijelaskan bahwa sahabat Anas bin Malik al-Anshari ra, beliau adalah salah satu mufti ternama di Bashrah saat itu. Siapa yang tidak kenal? Sang khadim / pelayan / santri ndalemnya Rasulullah saw semenjak beliau muda, membersamai shuhbah mulazamah dengan kanjeng nabi dalam rentan waktu begiiitu lama, mulai dari beliau saw hijrah sampai wafat. Karena itu kamu jangan heran kalau buktinya banyak hadits yang diriwayatkan melalui sahabat Anas ra.

Namun selepas nabi wafat apa sahabat anas berhenti ngaji? TIDAK.
Beliau lanjutkan kembali “ngangsu kawruh” nya kepada sahabat-sahabat lain, mengambil ilmu dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Umar bin Khatthab ra, Ustman bin Affan ra dan Ubay bin Ka’b ra. Padahal beliau semua sama-sama santrinya Rasulalllah saw biasa ngaji bareng, kumpul bareng dalam suka duka.

Ilmu itu unik, tidak ada benar-benar mengetahui segalanya kecuali Allah.
Karena itu namanya ilmu bisa jadi:
– ada di “aku” tidak ada di “kamu”
– ada di “kamu” tidak ada di “aku”
– sama-sama ada di “aku” dan ada di “kamu”
– sama tidak ada di “aku” dan tidak ada di “kamu”.

Secara nalar logis beginilah empat kemungkinannya. Oleh karena itu jangan pernah merasa paling tahu, perbanyaklah bertukar pikiran dan bermusyawarah. Bila sekiranya ada teman yang lebih alim, ngaji kepadanya. Jangan malu-malu! Hidup sekali-kalinya sayang sekali kalo cuma dipakai gengsi-gengsian! Harus terus tambah ilmu, tambah pengalaman, tiap hari!.

Coba bayangkan, kalau kita mengamalkan konsep hidup seperti ini, senang belajar kepada siapa saja meski teman sejawat atau mungkin sebawah usia. Saling berbagi ilmu!. Lalu kita pakai konsep sayyidina ‘Ali bahwa siapa yang mengajarkan kita meski satu huruf maka dia adalah ayah agama mu, dia jadikan kau budak atau merdeka ada dalam kuasanya. Akhirnya antar sesama kawan akan terjalin penghormatan saling merhargai bahkan senang memuliakan, sebab masing-masing dari kita menganggap guru kepada temannya. YAKIN secara otomatis akan hilang fenomena bullying yang hari ini makin marak di sekolah-sekolah, di pesantren-pesantren, di pendidikan abri polri eh bahkan di keperawatan.

Saya rasa cukup bisa dipaham, semoga dapat dipetik buahnya. Amin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

_

Ttd
Admin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top