504512953_4116774721877174_6522676002133680351_n

Etika Mengutip

إن كنت ناقلا فالصحة أو مدعيا فالدليل
“Jika kamu mengutip, maka pastikan kesahihannya. Atau kamu mengklaim, maka tunjukkan buktinya!”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

  ‎Salah satu karakter atau ciri khas yang kami bangun apabila mengisi “pengajian umum” ialah membaca kitab. Jadi bukan hanya saat dengan santri di pesantren, akan tetapi dengan jemaah bapak-bapak ibu-ibu pun demikian tidak berubah dari segi membawa & membaca. Namun barang tentu tingkatan pendalaman dan ekstensi kajian akan berbeda sesuai pengalaman audiens. ‎ ‎Kami memandang hal ini teramat penting, apalagi dengan maraknya fenomena ustadz karbitan yang bahkan sama sekali belum pernah mengenyam bangku Pesantren, lalu tenar dan viral dimana-mana. Seiring dengan tuntutan berbicara semakin tinggi, akhirnya terpaksa banyak improvisasi. Fatwa ngawur, kemampuan baca Al-Quran buruk, hadits salah-salah harokat dan huruf susunan kalimat acak-acakan kadangkala ada frase yang hilang bahkan ditambah, tapi anehnya saat menjelaskan tiba-tiba menyihir pendengar. Dikira ilmu padahal sebatas opini pribadi. Parahnya lagi dia beropini dengan hukum agama. ‎ ‎Setidaknya ada enam faidah kalo ustadz senantiasa bawa kitab saat mengisi pengajian: ‎ 1. Membuat penjelasan lebih terstruktur 2. ‎Membangun kepercayaan jamaah 3. ‎Menjadi contoh adab terhadap ilmu 4. ‎Catatan pinggir pada kitab menyimpan pengalaman belajar serta menghidupkan ruhaniah guru 5. ‎Menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan sebab memiliki rujukan yang pasti 6. ‎Menjaga tradisi literasi pesantren ‎ ‎Kami tidak mengatakan bahwa masyarakat harus ngaji kitab dengan

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top