Dari Yazid bin Abi Yazid beliau berkata: “dulu kami bertanya pada Sa’id bin Musayyib mengenai hukum halal dan haram (ilmu fikih), beliaulah pakarnya. Namun tatkala kami bertanya kepadanya tentang tafsir sebuah ayat dari Al-Quran, maka seketika beliau diam seakan-akan tidak mendengar”
Dari Abi Mulaikah beliau menceritakan bahwa: “sesungguhnya sahabat Ibnu Abbas ra pernah ditanya tentang sebuah ayat, yang seandainya ditanya salah satu dari kalian tentang itu maka pasti bisa menjelaskan. Tapi rupanya sahabat Ibnu Abbas ra malah menolak untuk berkomentar”.
Imam Hamad bin Zaid meriwayatkan bahwa Ubaidullah bin Umar Al-‘Umari berkata: “Sungguh telah aku temui para fuqaha di kota Madinah, dan aku pastikan semua dari mereka benar-benar menghukumi berat bilamana berbicara seputar tafsir Al-Quran Al-Karim. Diantara mereka ialah Salim bin Abdillah, Qasim bin Muhammad, Sa’id bin Musayyib dan Nafi'”.
Imam Masruq mengatakan: “Takutlah kalian kepada tafsir, sebab itu artinya meriwayatkan daripada Allah swt!”.
Sesungguhnya Imam Syi’bi mengatakan: “Hanya Al-Quran yang tidak aku jelaskan, sebab orang yang berdusta tentang itu berarti dia tidak berkesudahan dustanya dari Allah swt!”.
Seorang ulama ketika ditanya masalah tafsir, maka kemungkinannya dia berada pada salah satu dari empat kondisi berikut:
1. Adakalanya dia menjelaskan apa yang dia tahu, dan ini yang wajib kepadanya.
2. Adakalanya dia menyembunyikan yang dia tahu, ini yang termasuk daripada dosa-dosa besar.
3. Adakalanya dia berbicara tanpa berdasarkan ilmunya, Inipun bagian dosa besar.
4. Dan adakalanya dia tidak mengetahui dari apa yang ditanyakan kepadanya, maka yang wajib adalah diam tiada menjawab, sampai dia benar-benar menguasai ayat yang akan ia jelaskan.
Begitu keadaan para ulama salaf dahulu, walau ilmu mereka tinggi menjulang, tapi sangat takut bila berbicara soal Al-Quran. Hari ini, banyak kita temukan seorang yang bahkan nol besar sama sekali tidak memiliki basic bahasa arab untuk sekedar memahami i’rab rafa, nashab, khafazh, jazm, akan tetapi sangat lantang berbicara menafsirkan kalam tuhan, miris bukan?
Mari bersama kita kembali kan segala sesuatu kepada ahlinya. Kita awam, ikuti saja ulama. Insyaallah selamat. Aman. Nyaman. Tentram. Sampai ke Surga Firdaus jalan mulus, tanpa harus macam-macam!. Ulama nu mawa urang anu milu! Kitu sasauran pangersa alm. abah Adang Cipulus.
Oiya, sengaja dari awal sampai akhir status ini tidak ada tulisan ke arab-araban. Maksudnya untuk menekankan, bahwa yang orang umum butuhkan saat ini adalah subtansi, bukan gaya-gayaan!.
Iya. Sekali lagi. Tolong. Saya mohon. Hati-hati menjelaskan Al-Quran!.
Semoga bermanfaat.
_______
Nb: Foto diambil saat kegiatan kemarin, saat acara Lailatul Ijtima & Bahtsul Masail acara rutin bulanan MWCNU Kecamatan Lembang