520259356_4155720944649218_4515123577287498419_n

HATI-HATI MENJELASKAN AL-QURAN

Dari Yazid bin Abi Yazid beliau berkata: “dulu kami bertanya pada Sa’id bin Musayyib mengenai hukum halal dan haram (ilmu fikih), beliaulah pakarnya. Namun tatkala kami bertanya kepadanya tentang tafsir sebuah ayat dari Al-Quran, maka seketika beliau diam seakan-akan tidak mendengar”
Dari Abi Mulaikah beliau menceritakan bahwa: “sesungguhnya sahabat Ibnu Abbas ra pernah ditanya tentang sebuah ayat, yang seandainya ditanya salah satu dari kalian tentang itu maka pasti bisa menjelaskan. Tapi rupanya sahabat Ibnu Abbas ra malah menolak untuk berkomentar”.
Imam Hamad bin Zaid meriwayatkan bahwa Ubaidullah bin Umar Al-‘Umari berkata: “Sungguh telah aku temui para fuqaha di kota Madinah, dan aku pastikan semua dari mereka benar-benar menghukumi berat bilamana berbicara seputar tafsir Al-Quran Al-Karim. Diantara mereka ialah Salim bin Abdillah, Qasim bin Muhammad, Sa’id bin Musayyib dan Nafi'”.
Imam Masruq mengatakan: “Takutlah kalian kepada tafsir, sebab itu artinya meriwayatkan daripada Allah swt!”.
Sesungguhnya Imam Syi’bi mengatakan: “Hanya Al-Quran yang tidak aku jelaskan, sebab orang yang berdusta tentang itu berarti dia tidak berkesudahan dustanya dari Allah swt!”.
Seorang ulama ketika ditanya masalah tafsir, maka kemungkinannya dia berada pada salah satu dari empat kondisi berikut:
1. Adakalanya dia menjelaskan apa yang dia tahu, dan ini yang wajib kepadanya.
2. Adakalanya dia menyembunyikan yang dia tahu, ini yang termasuk daripada dosa-dosa besar.
3. Adakalanya dia berbicara tanpa berdasarkan ilmunya, Inipun bagian dosa besar.
4. Dan adakalanya dia tidak mengetahui dari apa yang ditanyakan kepadanya, maka yang wajib adalah diam tiada menjawab, sampai dia benar-benar menguasai ayat yang akan ia jelaskan.
Begitu keadaan para ulama salaf dahulu, walau ilmu mereka tinggi menjulang, tapi sangat takut bila berbicara soal Al-Quran. Hari ini, banyak kita temukan seorang yang bahkan nol besar sama sekali tidak memiliki basic bahasa arab untuk sekedar memahami i’rab rafa, nashab, khafazh, jazm, akan tetapi sangat lantang berbicara menafsirkan kalam tuhan, miris bukan?
Mari bersama kita kembali kan segala sesuatu kepada ahlinya. Kita awam, ikuti saja ulama. Insyaallah selamat. Aman. Nyaman. Tentram. Sampai ke Surga Firdaus jalan mulus, tanpa harus macam-macam!. Ulama nu mawa urang anu milu! Kitu sasauran pangersa alm. abah Adang Cipulus.
Oiya, sengaja dari awal sampai akhir status ini tidak ada tulisan ke arab-araban. Maksudnya untuk menekankan, bahwa yang orang umum butuhkan saat ini adalah subtansi, bukan gaya-gayaan!.
Iya. Sekali lagi. Tolong. Saya mohon. Hati-hati menjelaskan Al-Quran!.
Semoga bermanfaat.
_______
Nb: Foto diambil saat kegiatan kemarin, saat acara Lailatul Ijtima & Bahtsul Masail acara rutin bulanan MWCNU Kecamatan Lembang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Faidah

Siapa yang tidak kenal dengan imam kisai? Siapapun yang belajar nahwu shorof dan ilmu qira’at dipastikan tidak lagi asing dengan nama beliau, seorang alim masyhur dari Kufah. Diceritakan didalam kitab Al-Jawaahir wad Durarnya Al-Imam Abdurrahman As-Sakhawi, ternyata Imam Kisai tidak sama dengan ulama lain yang memang sedari kecil sudah memulai rihlah ilmiahnya. Pasalnya sampai usia 40 tahun pun beliau masih disibukkan dengan menggembala kambing dan menjalani aktivitas keseharian seperti masyrakat pada umumnya. Pada usia yang tidak lagi muda itulah beliau baru menekuni keilmuan, sampai menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya. Tapi bukan orang besar kiranya bila tidak pernah kontroversial, ya begitupun sang imam. Salah satu statement beliau yang cukup booming kala itu: من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم Lebih kurang artinya: “Siapapun yang bak lautan (luas dan mendalam) penguasaannya didalam satu cabang ilmu, maka dia akan dimudahkan menguasai cabang-cabang keilmuan lainnya”. Sontak hal tersebut memicu alim lainnya untuk menguji kebenaran klaim tadi, yang sekilas memang nampak rapuh, sebab semua disiplin keilmuan tentunya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Hingga suatu hari secara langsung beliaupun dipertemukan dengan imam Abu Yusuf seorang alim fiqih besar, salah satu murid kinasih nya imam abu hanifah. Maka tak

Pendaftaran Santri Baru Telah Dibuka

Kegiatan Mendatang

Scroll to Top