Kemarin malam dari penginapan kami bertiga bertolak menuju Jabal Nur, salah satu gunung yang terletak di sebelah timur kota Mekkah al-Mukarramah.
Bukan tanpa alasan, karena tepat di puncak dari gunung ini, terdapat sebuah gua yang berukuran sekitar 3 meter panjang, 1,5 m lebar, dan 2 m tinggi. Luasnya hanya cukup untuk shalat dua orang. Di bagian kanan gua terdapat teras batu untuk shalat dalam keadaan duduk. Orang-orang memanggilnya gua hira, itulah kenapa gunung ini juga kerap kali disebut jabal hira. Sebenarnya masih ada sematan nama lain, sebagian menamainya jabal al-Quran atau jabal al-Islam.
Penamaan-penamaan tadi tidak lain sebab bermuara pada satu pristiwa besar, yaitu pristiwa kerasulan serta turunnya ayat-ayat pertama dari al-Quran. Tepat disitu, 15 abad yang lalu kanjeng nabi Muhammad saw menyepi dari makhluk dan bercengkrama hanya dengan sang pencipta (uzlah). Hingga tiba-tiba didatangi oleh malaikat jibril as yang membawa wahyu.
Pendakian ke puncak jabal nur tadi aku tempuh lebih kurang selama 2 jam, sekarang aksesnya sudah cukup nyaman, terbantu sekali dengan adanya tangga-tangga yang menjadi akses ke puncak, meski tetap jalannya cukup curam, terjal, lika-liku, batu-batu besarpun bertumpuk, kanan kiri jurang disekat dengan pagar pengaman. Tidak terbayang bagaimana sulitnya kanjeng nabi dulu mendaki ke sana? Pun begitu istri beliau sayyidah Khadijah ra yang dalam riwayat juga kerap kali mengunjungi nabi saat itu, sembari membawa perbekalan. Darisana aku belajar akan betapa harmoninya sebuah cinta dan pengorbanan.
Para ulama menjelaskan bahwa di dalam maqam suluk, perihal uzlah ini pun menjadi sangat penting. Terlebih hari ini, dimana percampuran gaul dengan manusia, semakin membuat kita lalai dan lupa akan hakikat kehidupan dan tugas sejati seorang hamba.
Syaikh Ramadhan Buthi di kitabnya mengatakan:
ان الْمُسْلِمَ لَا يَكْمُلُ إِسْلَامُهُ مَهْمَا كَانَ مُتَحَلِّيًا بِالْفَضَائِلِ، قَائِمًا بِأَلْوَانِ الْعِبَادَاتِ، حَتَّى يَجْمَعَ إِلَى ذَلِكَ سَاعَاتٌ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالْخَلْوَةِ يُحَاسِبُ فِيْهَا النَّفْسَ، وَيُرَاقِبُ اللهَ، وَيُفَكِّرُ فِي مَظَاهِرِ الْكَوْنِ، وَدَلَائِلِ ذَلِكَ عَلَى عَظْمَةِ اللهِ
“Sungguh seorang muslim tidak dikatakan sempurna keislamannya, meski telah menghiasi diri dengan berbagai ibadah, banyak melakukan ketaatan dan kebaikan, sebelum menyendiri selama beberapa lama, dengan tujuan untuk mengintrospeksi diri, merasakan pengawasan Allah swt, memikirkan fenomena alam dan petunjuk-petujuk hal tersebut atas keagungan Allah.” (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sîratin Nabawiyyah).
Untuk teman-teman yang hendak akan ke gua hira, saya anjurkan untuk:
– Tidak berangkat kecuali dalam kondisi prima
– Berangkat selepas subuh atau sore menjelang malam
Buat kita orang Indonesia yang belum terbiasa panas-panas, tentu terik matahari akan sangat menganggu suasana khidmat perjalanan. Belum lagi dihantam oleh sulitnya dan payahnya akses jalan, akhirnya tambah repot kalau siang-siang. Karena itu pilih antara dua waktu diatas, immaa subuh atau sore sekalian.
– Sebelum naik, pastikan sudah kencing atau buang air
Jangan ditahan-tahan, karna butuh perjalanan lama untuk sampai dan kembali
– Membawa persediaan air minum yang cukup
Sebenarnya diatas juga cukup banyak orang-orang yang berjualan, tapi bila ingin menghemat di perjalanan lebih baik bawa sendiri. Oiya lebihkan juga untuk berwudlu barangkali batal diperjalanan.
– Membawa cemilan dan penambah stamina
– Perlengkapan shalat dan buku wiridan
Buku wiridan ini penting, karna di puncak gunung ada spot yang nyaman sekali untuk dipakai berdzikir. Kamu bisa langsung memandang kota mekkah darisana. Sambil angin sepoi-sepoi tentunya menambah syahdu suasana dzikir, tafakkur, dan tadabbur
Masuk ke gua hira pun tidak gampang, setelah sampai di sana kita harus mengantri lama-lama bahkan sebagian sampai ada yang sikut-sikutan.
Satu jam lamanya aku di bibir gua hira, berdesakan dengan orang-orang Uzbekistan, Pakistan, Turkey, dan lainnya.
Jujur aku sedikit kecewa, sebab sebenernya soal antri ini bisa saja dibuat regulasinya, ya seperti raudlah sekarang.
Tapi lelah, peluh, nyeri yang sedari tadi ditahan pun seketika lenyap, dikala hamba yang dla’if ini bisa masuk kedalam gua tsb seraya bertabarruk bermunajat serta melaksanakan shalat 2 rakaat tepat di titik dimana yang tercinta nabi Muhammad saw dulu duduk dan menyepi sekian lamanya. Tak kuasa, tubuhku bergetar, seluruh pori-poriku merasakan nuansa kerinduan, pasalnya kini ia sedang bersentuh dengan sesuatu yang pernah bersentuh dengan sang utusan.



